Belajar Parenting dari Ummu Sulaim

0
127

“Hajarah, waraqah, miqassh”

Suara saya dengan ketiga anak saya tersebut membuat para jemaah umrah asal Arab tersenyum-senyum saat melewati kami di pelataran Masjid Nabawi yang tak jauh dari Raudhah dan makam Sang Baginda itu. Mungkin saja lantaran permainan batu-kertas-gunting dengan Bahasa Arab itu tak familiar dimainkan oleh anak-anak berwajah Indonesia seperti mereka.

Sembari bermain saya mengajarkan mereka bahwa di bawah kubah hijau itu adalah rumah Ibunda Aisyah sekaligus menjadi makam Rasulullah, dan di sekitarnya adalah rumah istri-istri beliau. Tak jauh darinya terdapat rumah kecil Ummu Sulaim, ibu sahabat mulia, Anas bin Malik.

Yah, di balik kemegahan Masjid Nabawi itu tersimpan perjuangan indah, keimanan syahdu dan kekhusyukan ibadah para sahabat dan sahabiah yang luar biasa. Bisa dibayangkan, saat Hasan, Husain dan anak-anak para sahabat berlari-lari kecil sembari bermain di sekitar Masjid Nabawi yang dahulu hanya sedikit lebih besar dari ukuran Raudhah itu.

Tentu masih teringat saat Ummu Sulaim beserta suami keduanya, Abu Thalhah mendengar dari rumah mereka sayup-sayup suara taklim Sang Nabi melemah dari dalam Masjid Nabawi.

“Sungguh saya mendengar suara Rasulullah melemah, saya yakin beliau telah lapar; apakah ada makanan yang tersedia untuk beliau?” Tanya Abu Thalhah pada sang istri tercinta. Lantas Ummu Sulaim mengeluarkan beberapa potong roti gandum, kemudian membungkusnya secara rapi dengan kain dan mengirim sang buah hatinya, Anas bin Malik untuk memberikan roti tersebut kepada Rasulullah yang sedang mengisi taklim Masjid Nabawi sembari menahan lapar.[1]

Ummu Sulaim tak hanya dikenal sebagai sosok wanita kerabat Rasulullah dari kaum Anshar, tapi juga sosok wanita pejuang Islam dan mendidik putra-putranya untuk membela Islam dan berkhidmat terhadapnya. Tatkala Rasulullah berhijrah ke Madinah, Ummu Sulaim tak memiliki apa pun yang pantas dihadiahkan kepada Rasulullah. Lalu dia pun mendatangi beliau sembari membawa seorang putra tampan nan cerdas yang masih berusia 8 tahun. Dengan penuh bahagia, ia menawarkan kepada Rasulullah hadiah terbesarnya kepada umat ini,

“Wahai Rasulullah! Tidak ada seorang pun dari kalangan Anshar baik laki-laki maupun wanita kecuali telah menghaturkan padamu sebuah hadiah dan saya tidak memiliki kemampuan untuk memberikanmu sebuah hadiah kecuali putraku ini. Ambillah dirinya dan jadikan ia sebagai pelayanmu.”[2]

Dalam riwayat lain, ia berkata, “Wahai Rasulullah! Ini putra saya, Unais (panggilan kecil Anas). Saya membawanya kepadamu agar menjadi pelayanmu, maka doakanlah ia kepada Allah.” [3]

Beginilah seharusnya potret seorang bunda, ia harus membina putra-putrinya sedari kecil untuk berkhidmat kepada Islam dan orang-orang saleh. Ide Ummu Sulaim ini sangat luar biasa, lantaran tidak terpikirkan oleh para bunda yang lain. Sebab itu, sudah sepantasnya para bunda berpikir secara cerdas agar membina putra-putri mereka di atas perjuangan Islam. Tentunya tak mesti menjadi pelayan seperti Anas, sebab ada banyak ranah pembinaan terkait ini, semisal dibiasakan membagi-bagikan sedekah atau makanan buka puasa, menjadi pelayan para ustadz dalam acara-acara tertentu, ditugaskan menyapu lantai masjid atau membersihkan WC, dan berbagai pembinaan praktis lainnya, agar ia tumbuh menjadi remaja dan pemuda yang peduli dengan ajaran dan perjuangan umat Islam.

Sebelum Rasulullah hijrah, suami Ummu Sulaim dan ayah Anas, Malik bin Nadhar meninggalkan Madinah dan menuju negeri Syam karena membenci Islam dan membenci keislaman Ummu Sulaim. Namun, kepergian suaminya tersebut tak membuat Ummu Sulaim yang telah masuk Islam goyah, bahkan hal itu semakin membuatnya gigih untuk memeluk Islam dan mendidik anak satu-satunya tersebut di atas Islam.[4] Untuk tujuan inilah, Ummu Sulaim secara pribadi sangat gigih mendidik Anas sejak kecil, sehingga ia telah bisa membaca dan menulis sebelum menjadi pelayan utama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam[5], padahal saat itu keterampilan menulis dan membaca masih sangat jarang ada di kabilah-kabilah Arab.

Konsentrasi Ummu Sulaim sebagai seorang janda cantik dalam mendidik putra tercintanya ini sangat luar biasa, sampai-sampai ia berazam agar tidak menerima pinangan siapa pun yang saat itu berjubel mendatanginya kecuali setelah Anas bin Malik dewasa.

“Saya tidak akan menikah (lagi) sampai Anas dewasa.” Tutur Ummu Sulaim menanggapi berbagai lamaran tersebut.[6] Hal ini kemudian diwujudkan oleh Ummu Sulaim. Saat Anas dewasa Ummu Sulaim pun dilamar oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al-Anshariy yang saat itu masih musyrik. Namun, Ummu Salamah mensyaratkan agar Abu Thalhah masuk Islam terlebih dahulu. Lantas keduanya pun menikah dengan mahar keislaman Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhum.

Pembinaan dirinya terhadap Anas bahkan sangat detail hingga pada hal-hal yang mungkin kita menganggapnya hal remeh dan tidak terlalu urgen. Hal ini tergambarkan dalam kisah saat Anas terlambat balik ke rumah ibunya lantaran menyelesaikan keperluan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika Anas pulang, Sang Bunda bertanya, “Tadi engkau di mana?”

“Saya tadi sedang menyelesaikan keperluan Rasulullah.”

Lantas Ummu Sulaim mencoba mengujinya, “Keperluan apakah itu?”

“Sungguh itu rahasia Rasulullah” Jawab Anas.

Mendengar jawaban mulia nan luhur ini, Sang Bunda menguatkan Anas dengan ucapannya, “Wahai anakku! Jagalah rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan jangan sama sekali memberitahukannya kepada siapa pun!”[7]

Beginilah sosok bunda pendidik cekatan dan murabbiyah yang profesional. Ia harus mendidik putra-putrinya agar tidak menyebarkan rahasia siapa pun, dan sesekali menguji tingkah laku dan kejujuran mereka dalam mempraktikkan akhlak islami.

Sebagai sosok bunda pendidik yang sangat luar biasa, Ummu Sulaim tak hanya berikhtiar dalam proses pembinaannya, namun juga banyak menengadahkan tangan kepada Allah agar memberikan taufik kepada putranya tersebut, bahkan ia tak segan-segan memohon agar manusia paling saleh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendoakan Anas bin Malik, dari sejak awal perjumpaan dengan Rasulullah hingga beliau wafat.

“Wahai Rasulullah! Ini putra saya, Unais (panggilan kecil Anas). Saya membawanya kepadamu agar menjadi pelayanmu, maka doakanlah ia kepada Allah.” Pinta Ummu Sulaim saat memberikan putranya untuk menjadi pelayan Rasulullah. Maka beliau pun berdoa, “Ya Allah! Perbanyaklah harta dan anak keturunannya.”[8]

Anas pernah mengisahkan permohonan doa ibunya yang lain:

Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi rumah kami, sedangkan di rumah hanya ada saya, ibu saya (Ummu Sulaim) dan bibiku, Ummu Haram.

Maka ibuku berkata, “Wahai Rasulullah! Ini (yakni Anas) adalah pelayan kecilmu, maka doakanlah dirinya kepada Allah.”

Maka Rasulullah pun mendoakanku dengan segala kebaikan, dan kalimat doa terakhirnya untukku ialah: “Ya Allah! Perbanyaklah hartanya, anak keturunannya dan berkahilah ia di dalamnya.”[9]

Dengan berkat kesabaran dan kecekatan Ummu Sulaim dalam pembinaan ini, Anas bin Malik menjadi sosok sahabat yang tak hanya cekatan dalam melayani Rasulullah, namun ia juga sukses menjadi salah satu murid Rasulullah yang paling hebat, menjelma menjadi salah seorang ulama para sahabat serta periwayat hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbanyak setelah Abu Hurairah dan Ibnu Umar.

Oleh Maulana La Eda, Lc, MA

[1] . Kisah ini ada dalam HR. Bukhari: 3578 dan Muslim: 2040.

[2] . Silakan merujuk ke: Musnad Abu Ya’la: 3624, Musnad Ahmad: 12273, dan Jami’ Tirmizi: 589.

[3] . Muslim: 2481.

[4] . Lihat: Al-Ishabah: 8/227.

[5] . Lihat dalam HR Ahmad: 12273.

[6] . Thabaqat Ibn Sa’ad: 8/313.

[7] . HR. Bukhari: 5931.

[8] . HR. Muslim: 2481.

[9] . Muslim: 2841.Sumber dari: https://wahdah.or.id/belajar-parenting-dari-ummu-sulaim/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here